Uncategorized

Tantangan Dunia Penyiaran adalah Kreativitas


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Yuliandre Darwis mengatakan tantangan dunia penyiaran adalah kreativitas. Jika hal itu tidak dijaga, maka akan sangat sulit untuk bersaing dengan pesatnya perkembangan media digital.

Andre menyebutkan masyarakat saat ini disebut orang-orang millenial. Artinya orang-orang yang selalu bekerja keras, penuh dengan rasa ingin mencoba hal-hal baru, dan selalu optimistis.

Sehingga sambungnya, jika mereka hanya menjadi follower maka akan segera tersingkirkan. Sedangkan mereka yang penuh dengan gagasan dan ide-ide kreatif akan sangat dihargai dan semakin maju pesat.

“Era millenial membuat orang harus menjadi diri sendiri, tidak bisa hanya menjadi follower. Setiap orang harus menciptakan gagasan yang brilian untuk menjadi figur yang kreatif dan harganya akan cukup mahal,” ujar Andre dalam seminar Tantangan Dunia Penyiaran di Universitas Muhammadiyah Jakarta, Rabu (11/10).

Menurutnya, tuntutan kreativitas inilah yang membuat perubahan dalam perkembangan dunia penyiaran saat ini. Karena kreatifitas itu menurutnya yang membuat manusia berbeda satu sama lain. “Makanya ciptakan kreasi, yang mana orang bisa dianggap ini unik. Ini tantangannya untuk anak-anak muda sekarang,” ujar Andre.

Diklitbang PRSSNI, Chandra Novriadi menambahkan bahwa masyarakat terutama mahasiswa agar siap dengan tantangan-tantangan tersebut. Karena pertarungan dalam dunia penyiaran saat ini menurutnya juga harus dibarengi dengan konten-konten menarik yang tengah diminati masyarakat.

“Saya berharap kampus ini mencetak mahasiswa siap menghadapi perubahan-perubahan ke depannya, mampu menciptakan hal baru karena persiangan luar biasa keras apalagi adanya sosial media,” ungkapnya.

Begitupun dalam sudut pandang Direktur Penyiaran Kemkominfo, Geryantika Kurnia. Menurutnya saat ini manusia secara individual sudah bisa menciptakan hal-hal yang menarik dari hobinya. Bahkan tidak sedikit kata dia, dari mereka justru menjadikan kreativitasnya itu sebagai ladang bisnis.

Misalnya ada seorang yang hobi bermain game, hingga kemudian dikontrak hanya untuk menjadi komentator atau membuat review tentang game-game apa saja yang bagus dan tidak. “Dapat penghasilan besar (kerjanya) cuma komentar game ini bagus game ini tidak,” ujar dia.

Berbeda dengan penikmat game, ada juga individu yang hobinya membuat video. Tidak perlu dengan kamera yang mahal, sambung Gery, dengan kamera ponsel pun asalkan bisa memanfaatkannya bisa menghasilkan uang.

Misalnyaa seorang ibu rumah tangga yang merekam kegiatan dan aksi-aksi kelucuan anaknya lalu diunggah ke YouTube. Atau ada juga artis Raditya Dika yang juga mendapatkan penghasilan dari akun YouTubenya. Kreativitas seperti itu, tambahnya tentu saja dinilai bagus dan positif. Asalkan konten-konten yang dihadirkan tidak bermuatan SARA. “Karena ada UU ITE yang mengaturnya,” ujar Gery.



Republika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *